Tampilkan postingan dengan label Istimewa Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istimewa Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Oktober 2012

Mukijizat Djikir terhadap Otak Manusia

Otak adalah aktivitas bio-elektrik yang melibatkan sekumpulan saraf yang berfungsi melakukan tugas-tugas tertentu untuk menjadikan ia berfungsi dengan sempurna. Setiap hari ada 14 juta saraf  yang terbentuk dalam otak yang berinteraksi dengan 16 juta saraf pada bagian tubuh yang lain. Semua aktivitas yang kita lakukan dan pemahaman atau ilmu yang kita peroleh adalah akibat dari aliran interaksi bio-elektrik yang tidak terbatas. Karenanya, bila seseorang itu berzikir dengan mengulangi kalimat-kalimat Allah seperti subhanallah, beberapa bagian otak yang terlibat menjadi aktif. Ini menyebabkan terjadinya aliran bio-elektrik di wilayah-wilayakh saraf otak tersebut.

Bila zikir itu berulang-ulang kali, aktivitas saraf menjadi bertambah aktif dan turut menambah tenaga bio-elektrik. Lama-kelamaan kumpulan saraf yang sangat aktif ini mempengaruhi kumpulan saraf yang lain untuk turut aktif bersama. Dengan demikian, otak menjadi aktif secara kesluruhan. Otak mulai memahami perkara baru, melihat dari perspektif berbeda dan semakin kreatif dan kritis, sedangkan sebelum berzikir tidak demikian. Otak yang segar dan cerdas secara tidak langsung mempengaruhi hati untuk melakukan kebaikan dan menerima kebenaran.

Hasil penelitian laboratorium yang dilakukan terhadap manusia seperti yang dipublikasikan dalam majalah Scientific American, edaran Disember, 1993. Satu penelitian yang dilakukan di Universitas Washington di mana ujian ini dilakukan melalui ujian imbasan PET yang mengukur kadar aktivitas otak manusia secara tidak sadar. Dalam penelitian ini, relawan diberikan satu lembar daftar benda-benda. Mereka diminta membaca daftar tersebut satu-persatu dan mengaitkan perkataan dengan katakerja yang berkaitan.

Apabila relawan melakukan tugas mereka, beberapa bagian berbeda otak menunjukkan peningkatan akitivitas saraf termasuk di bagian depan otak dan korteks. Menariknya, bila relawan mengulang membaca daftar perkataan yang sama berulang-ulang kali, aktivitas saraf otak menyebar kekawasan lain dan mengaktifkan kawasan saraf lain. Apabila daftar perkataan baru diberikan kepada mereka, aktiviti saraf kembali meningkat di kawasan pertama. Ini sekaligus membuktikan menurut pengetahuan bahwa perkataan yang diulang-ulang seperti perbuatan zikir terbukti meningkatkan kecerdasan otak dan menambah kemampuannya.

Oleh itu, saudara-saudara seIslam, ketika peneliti barat baru menemui mukjizat ini, kita umat Islam sebagai umat terpilih ini telah lama mengamalkannya dan menerima manfaatnya. Malang bagi mereka yang masih memandang remeh tentang kepentingan berzikir dan secara nyata mengabaikannya.

Kamis, 20 September 2012

Fakta Seputar Haji

1. Thawaf (berputar mengelilingi Kabah) telah dilakukan umat sejak nabi-nabi sebelum Nabi Ibrahim. Thawaf meniru malaikat-malaikat yang mengelilingi Kabah nurani di surga. Thawaf sebagai ritual Haji ditafsirkan sebagai simbol penyatuan dengan gerak alami, seperti alam semesta yang bergerak dengan cara berputar.

2. Sa’I (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah) dilakukan untuk mengenang istri Nabi Ibrahim, Hajar, sewaktu berjuang mencari air untuk bayi mereka yang kehausan, Ismail. Maknanya, sesungguhnya Allah menghargai setiap usaha manusia walau manusia merasa gagal.Hasil yang Dia berikan bisa datang dari arah yang tak terduga karena tidak ada usaha yang sia-sia di mata Allah.

3. Wukuf (berdiam diri di padang Arafah) untuk mengenang bertemunya kembali Nabi Adam dengan Siti Hawa setelah berpisah cukup lama di bumi. Adam dan Hawa diperintah Allah keluar dari Surga ke dunia karena melanggar perintahNya untuk tidak menyentuh buah khuldi.

4. Jumlah jamaah Haji total dari seluruh dunia setiap tahun selalu meningkat, tahun 2011 sebesar 2,5 juta jamaah dari seluruh dunia; 1,8 juta berasal dari luar Arab dan 800ribu berasal dari Arab.

5. Arab Saudi menyiapkan personel keamanan khusus untuk ibadah Haji sebanyak 63 ribu pasukan, 22 ribu diantaranya berasal dari sipil, dan 6000 kendaraan. Ada sekitar 20 ribu petugas kesehatan untuk membantu jamaah Haji.

6. Luas Masjidil Haram saat ini 365 ribu meter persegi. Direncanakan tahun 2020 diperluas menjadi 587.250 meter persegi. Jika di hari-hari biasa (selain musim haji) dapat menampung 900 ribu jamaah, maka di musim Haji dapat menampung hingga 2 juta-an jamaah. Saat ini sedang ditingkatkan kapasitasnya untuk dapat menampung hingga 4 juta jamaah.

7. Jumlah air zamzam yang dibagikan untuk jamaah Haji mencapai jutaan liter. Air  zamzam ini sudah ada sejak jaman Nabi Ibrahim.Hingga kini menjadi sumber air bersih utama di Mekkah dan belum pernah mengalami kekeringan.

8. Kabah dibangun pertama kali oleh Nabi Adam. Nabi Ibrahim menemukan kembali atas petunjuk Allah dan membangunnya ulang dibantu Nabi Ismail. Kini Kabah terbuat dari marmer dan granit. Pintunya terbuat dari 280 kg emas murni. Kelambu hitam yang menutupi (kiswah) terbuat dari sutra terbaik dan kaligrafinya disulam dari benang emas dan perak seberat 150 kg.

9. Kuota Haji untuk Indonesia setiap tahunnya adalah 211 ribu jamaah, 194 ribu jamaah Haji regular dan 17ribu jamaah Haji khusus. Indonesia merupakan Negara dengan jamaah Haji terbanyak.

10. Karena banyaknya yang mengantri haji, ada satu daerah di Indonesia yang calon jamaah Haji menunggu hingga 15 tahun, yaitu di Sulawesi Selatan.

Senin, 17 September 2012

Janji Allah kepada Orang Beriman

Alquran terdapat sekian banyak janji mulia dan istimewa yang ditawarkan kepada orang-orang yang memiliki keimanan, baik janji-janji di dunia maupun janji-janji di akhirat. Janji-janji akhirat yang diberikan bagi mereka yang beriman tidak terhitung jumlahnya dalam kitab suci itu karena amat banyak. Adapun janji-janji di dunia yang disebut secara terang-terangan (eksplisit), setidak-tidaknya ada sepuluh macam. Berikut ini adalah sepuluh janji di dunia itu.

Allah SWT berjanji akan menolong orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah SWT, 
"... Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman." (QS. Ar-Ruum: 47).

Diberikan advokasi atau pembelaan (ad-difa'). Allah SWT berfirman,  
”Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang ber­iman...” (QS. Al-Hajj:38).

Mendapatkan perlindungan kasih sayang (Al-wilayah). Allah SWT berfirman, 
”Allah Pelindung orang-orang yang beriman.... ” (QS. Al-Baqarah: 257).

 Ditunjukkan kepada jalan yang benar (Al-hidayah). Didasarkan firman Allah SWT, 
... Sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang- orang yang beriman kepada jalan yang lurus. ” (QS. Al-Hajj: 54).
Orang-orang kafir tidak akan diberikan jalan untuk memusnahkan mereka dari muka bumi (adamu taslithiil kafirin). Allah SWT berfirman, 
"Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-oriing kafir.” (QS. An-Nisa.i : 141).

 Diberikan kekuasaan di dunia dan diberikan kemapanan dalam segala bidang. Allah SWT berfirman,  
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah meiyadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan (memberikan kemapanan) agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka.” (QS. An-Nuur; 55).
Keberkahan dari langit dan bumi, seperti sumber daya alam yang melimpah serta rezeki yang lezat (Al-barakah dan ar-rizqu ath-thayyib). Allah SWT berfirman,  
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raaf: 96).
Kemuliaan dan kejayaan (Al-izzah). Allah SWT berfirman,
”Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang yang berinar (mukmin).” (QS. Al-Munafiquun: 8).

 Kehidupan yang baik (al-hayah ath-thayyibah) Allah SWT berfirman, 
"Barangsiapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki mau­pun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An- Nahl: 97).

Diberikan kemenangan (Al-fAth). Allah SWT berfirman, 
 ”Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenang­an (kepada Rasul-Nya) atau suatu keputusan dari sisi-Nya.." (QS. Al-Maa'idah: 52).

 Dengan janji-janji yang menggiurkan tersebut tentu kualifikasi (penyeleksian) orang-orang yang dikategorikan sebagai memiliki keimanan sangat ketat. Jika tidak, tentulah banyak orang, bahkan semua orang, yang akan mengaku-aku diri sebagai orang beriman. Untuk menghindari ini dan untuk mengukur pula seberapa kadar keimanan manusia, dilakukanlah proses tes terlebih dahulu, tes keimanan, sebagaimana tes ini dilakukan terhadap generasi-generasi dahulu. Allah SWT berfirman,
 Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, 'Kami telah beriman,’ sedang mereka belum diuji ? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang- orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang- orang yang dusta.” (QS. Al-'Ankabuut: 2-3)

Lemah Iman [Tanda dan Cara Meningkatkan Iman]

Tanda-tanda Lemah Iman:
  • Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
  • Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Quran
  • Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
  • Meninggalkan sunnah
  • Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
  • Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Quran dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
  • Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
  • Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syariah
  • Menginginkan jabatan dan kekayaan
  • Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
  • Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
  • Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
  • Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
  • Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
  • Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
  • Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
  • Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
  • Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
  • Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
  • Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:
  • Tilawah Al-Quran dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
  • Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
  • Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
  • Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
  • Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
  • Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
  • Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
  • Berdoa, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
  • Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Taala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
  • Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.
  • Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

Rabu, 12 September 2012

Alasan Kita harus membaca Al-Quran

Kita di sini akan menggali pemahaman kita, “mengapa aku harus belajar al qur’an, dan mengapa aku harus mengajarkannya?”. Interaksi dengan al qur’anadalah kenikmatan. Tapi kenikmatannya tidak dapat dirasakan dengan hanya melihat dari jauh. Ia akan terasa nikmat jika kita terjun ke dalamnya. Marilah kita kembali pada al qur’anyang mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya

Kita adalah kaum minoritas

Ketahuilah bahwa kita adalah minoritas. Jangan pernah kita tertipu oleh julukan “bangsa dengan penduduk muslim terbesar”. Kita harus memahami bahwa islam tak dikotak-kotakkan menjadi bangsa atau negara. Saat kita berkeyakinan bahwa negeri ini adalah negeri muslim terbesar, berapa banyak manusia di belahan bumi ini yang tidak mengenal islam, yang masih membenci islam, bahkan yang terang-terangan memusuhi islam. Marilah kita pahami ini…

Umat manusia di dunia saat ini sekitar enam milyar. Diantara mereka, berapa yang muslim?
Diantara mereka, berapa yang lurus dan tidak menyimpang?
Diantara mereka, berapa yang mau belajar al qur’an?
Diantara mereka yang bisa membacanya, berapa banyak yang mau membacanya?
Diantara mereka yang konsisten membacanya, berapa yang mau menghafal al qur’an?
Diantara mereka yang hafal al qur’an, berapa banyak yang mau mengajarkan al qur’an?
Diantara mereka yang mengajarkannya, berapa banyak yang konsisten dalam dakwah bil qur’an?
Dan jika kita bertanya pada diri kita “Dimanakah posisi saya saat ini?”


Ketika kita dihadapkan pada peluang belajar al qur’an, sering muncul gangguan-gangguan yang akhirnya membuat kita mundur dan menunda-nunda peluang tersebut. Dan mungkin selalu ada saja alasan yang seakan masuk akal, sehingga kita tidak lagi merasa bersalah ketika mengabaikan tugas yang sangat penting ini.

Sudah terlalu tua

Di antara kita mungkin ada yang beralasan, bahwa kita sudah terlambat dalam belajar. Masa-masa keemasan kita sudah lewat. Kita sudah terlalu tua untuk dapat mengingat ayat-ayat al qur’ann dengan baik. Lidah kita sudah terlalu kaku untuk dapat melafalkan huruf dengan fashih. Padahal tahukah anda, bahwa rasulullah mulai menghafal al qur’an di usia 41 tahun? Tahukah anda bahwa rata-rata usia para sahabat ketika mulai belajar al qur’an adalah 30 tahun? Di antara mereka bahkan ada yang mantan perampok, pembunuh, pemerkosa atau pelacur, sementara mereka juga adalah kaum buta huruf? Allahlah yang telah menutup dosa-dosa mereka dengan maghfirohnya. Kemuliaan dan keberkahan akan lahir berkat perjuangan mereka sendiri. Ingatlah bahwa tidak ada kata terlambat dalam belajar.

Kesibukan yang menyita
Alasan kesibukan adalah alasan yang paling sering kita kemukakan. Kita merasa bahwa waktu kita sudah habis oleh ini dan itu. Ketika kita bermaksud untuk belajaral qur’an di sebuah halaqoh, tiba-tiba kita menemukan bahwa di waktu tersebut kita memiliki kegiatan yang jauh lebih penting. Akhirnya kita menyerah oleh keadaan. Dan kitapun lagi-lagi meninggalkan keinginan tersebut.

Benarkah kita sudah tak memiliki waktu lagi?

Hitunglah berapa jam waktu tidur kita, berapa jam waktu yang kita habiskan di perjalanan,  juga jam-jam istirahat kita dan jam-jam bersenda gurau dengan orang lain. Sudahkah semua itu sebanding dengan ibadah harian yang kita kerjakan? Sudahkah kita berlaku adil terhadap waktu kita? Tak bisakah kita menyisihkan waktu untuk al qur’an meskipun hanya sesaat? Benarkah tak bisanya kita adalah karena kehabisan waktu?

Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

“Barang siapa yang disibukkan Al Qur’an hingga tidak sempat berdzikir dan meminta kepadaku, niscaya akan aku berikan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah kuberikan pada orang-orang yang meminta..”


Yang penting pemahaman

Sering ada orang yang bertanya kepada saya ketika ia ingin bergabung dengan halaqohal qur’an di masjid al hikmah. Di antara pertanyaan tersebut adalah, “apakah belajar al qur’an di sini disertai tafsirnya atau hanya belajar membaca saja?”. Sungguh disayangkan ketika akhirnya banyak di antara mereka yang membatalkan keinginannya, hanya karena di sini tidak menyediakan program tafsir al qur’an secara resmi. Bagi orang yang menganggap bahwa memahami al qur’an lebih utama dari membacanya, atau mungkin sebaliknya, cukuplah baginya hadits-hadits rasulullah berikut ini,

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al qur’an, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.

“Sikap iri tidak diperbolehkan kecuali terhadap dua hal; seseorang yang di beri al qur’an oleh allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang hari..”

“Orang yang pandai membaca al qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat, sementara orang yang membaca al qur’an dengan terbata-bata serta merasa kesulitan akan mendapatkan dua pahala.”

“Bacalah al qur’an! sesungguhnya al qur’an akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi sahabat-sahabatnya”


Sesungguhnya masih banyak lagi alasan-alasan lain yang sering melintas di benak kita, yang perlu kita perbaiki adalah hati. Jika hati baik, maka baik yang lainnya. Jika hati rusak, maka rusak seluruhnya. Di antara penyebab kerusakan hati adalah apa yang diungkapkan oleh rasulullah,

“Seseorang yang tak ada sedikitpun al qur’an dalam hatinya seperti rumah yang rusak”